Jumat, 06 Januari 2017

Pantai Balekambang, Malang, Jawa Timur


Pantai Balekambang adalah sebuah pantai di pesisir selatan yang terletak di tepi Samudera Indonesia secara administratif masuk wilayah Dusun Sumber Jambe, Desa SrigoncoKecamatan BanturKabupaten MalangJawa Timur[1] dan merupakan salah satu wisata andalan Kabupaten Malang sejak 1985 hingga kini. Daya tarik Balekambang utamanya tentu panorama alam, gelombang ombak yang memanjang hampir dua kilometer, serta hamparan pasir nan luas. Area pasir putih terlihat bersih dari sampah maupun kotoran sehingga cukup nyaman bagi pengunjung untuk bermain dan berolahraga. Bahkan tak jarang di pantai ini menjadi tempat latihan sejumlah klub sepak bola seperti Arema dan Persema.
Pantai ini mulai berkembang dan disinggahi masyarakat luas tahun 1978, setelah adanya pembukaan akses jalan yang dilakukan Kades Srigonco Tukiran. Nama Balekambang kian dikenal setelah secara resmi dibuka sebagai salah satu tempat wisata oleh Bupati Malang, Eddy Slamet pada 1983. Saat itu jalan pun sudah dimakadam. Pantai ini pula diresmikan sebagai tempat perkemahan pramuka Kabupaten Malang. Kini, akses menuju Balekambang sudah mudah dan nyaman, pengunjung hanya kesulitan ketika berada di kawasan Jurang Mayit karena tanjakan yang menikung tajam. Tetapi, jalannya sudah beraspal mulus karena aksesnya yang bagus, hanya butuh waktu tak lebih dari 30 menit dari kota Kecamatan Bantur ke Balekambang.
Pantai Balekambang terus berbenah, sejumlah fasilitas tambahan disediakan pengelola, salah satunya flying fox. Permainan ini dilaunching sejak Agustus 2012, namun flying fox ini hanya buka setiap Sabtu-Minggu. Selain flying fox, permainan untuk anak-anak juga menjadi daya tarik. Beragam varian mainan seperti ayunan, patung hewan lengkap tersedia. Bahkan tak lama lagi akan disediakan persewaan ATV.
Pantai Balekambang selain sebagai wisata alam , juga bisa disebut sebagai tempat wisata religi. Karena pada hari-hari tertentu, ribuan pengunjung datang ke pantai ini untuk melakukan ritual. Bagi umat Islam, mereka menjalani ritual dengan berziarah ke makam Syaikh Abdul Jalil, orang pertama yang membabat Pantai Balekambang. Setiap tanggal 1 Sya’ban, para peziarah meluber ke makam yang berada terpencil di tepi Kali Berek, jaraknya sekitar 1 km sebelum masuk Pantai Balekambang dari arah Bantur. Asal usul Syaikh Abdul Jalil dikabarkan berasal dari Jogjakarta. Dia adalah seorang keluarga ningrat yang memiliki ilmu agama cukup tinggi, karena itu pengaruhnya di masyarakat begitu kuat. Apalagi Syaikh Abdul Jalil termasuk yang tidak mau kompromi kepada penjajah Belanda, karenamya Belanda menjadikannya sebagai orang yang harus disingkirkan.
Selain umat Islam, umat Hindu pun menjadikan pantai ini sebagai tempat ibadah utama setiap setahun sekali. Tepatnya pada hari raya Nyepi, lokasinya di Pura Amarta Jati yang berada di Pulau Ismoyo. Pulau ini menjorok masuk dari bibir pantai sekitar 70 meter yang dihubungkan dengan jembatan. Keberadaan pura ini bagai magnet tersendiri bagi Pantai Balekambang. Tradisi Nyepi dengan menggelar ritual keagamaan Hindu selalu dinantikan wisatawan dari berbagai daerah, termasuk wisatawan asing.
Di sekitar Pantai Balekambang juga sudah tersedia penginapan untuk para pengunjung. Pertama yaitu di penginapan Bamboo terdapat 8 kamar yang dibandrol Rp 150 ribu perharinya. Sedangkan yang terbaru adalah Hotel Wibisana sebanyak 10 kamar, yang kualitasnya lebih baik dibanding penginapan Bamboo. Kamar baru ini kelasnya dibandrol dengan tarif Rp 250 ribu per hari. Untuk kategori Large bisa menampung hingga enam orang dengan didukung fasilitas kamar mandi dan listrik. Dua jenis tipe penginapan ini memiliki fasilitas yang memadai dan seluruhnya menyuguhkan view langsung pantai dan laut lepas.

Pantai Banyutibo, Pacitan, Jawa Timur


Banyu Tibo adalah satu dari sekian pantai yang ada di kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kabupaten yang lebih dikenal dengan Kota Seribu Goa ini memang punya deretan pantai-pantai cantik, terutama di daerah pinggiran
Dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Pacitan (dan juga di Indonesia secara umum), Banyu Tibo punya suasana dan pemandangan yang berbeda. Di pantai ini terdapat sebuah fenomenan alam yang cukup unik dan jarang yakni sebuah air terjun yang jatuh langsung ke pantai. Fenomena dan pemandangan ini menjadi daya tarik utama Pantai Banyu Tibo
Lokasi Pantai Banyu Tibo ini berada di pinggiran Pacitan bagian selatan. Tepatnya di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo
Secara keseluruhan pantai ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pantai-pantai di Pacitan pada umumnya. Yakni berpasir putih dan memiliki air laut yang bersih. Hanya keberadaan air terjun yang membuat pantai ini terlihat berbeda. Air yang jatuh dari tebing tersebut merupakan air tawar yang berasal dari sumber air bawah tanah di pegunungan karst yang berada di sekitar pantai
Area pantai Banyu Tibo sendiri sebenarnya tidak terlalu luas. Bahkan jika air laut sedang pasang kita hanya bisa menikmati pemandangan pantai dari atas tebing. Namun, saat air sedang surut, bermain di area pantai yang dilengkapi dengan sebuah air terjun yang jatuh langsung ke area bibir pantai adalah sebuah pengalaman yang teramat seru. Apalagi volume air terjun disini cukup tinggi
Sebagaimana pantai-pantai lain di Pacitan yang lokasinya agak mblusuk. Pantai Banyu Tibo juga tidak terlalu ramai dari kunjungan wisatawan. Untuk yang suka bertualang, suasasana seperti ini tentu menjadi sebuah kesenangan tersendiri
Nama “Banyu Tibo” sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya air jauh. Nama ini merujuk pada keberadaan air terjun di pantai tersebut
Sama seperti pantai-pantai di daerah pinggiran Pacitan pada umumnya. Selain memiliki pasir putih sebagai salah satu daya tarik, Pantai Banyu Tibo juga dikelilingi oleh bukit-bukit karst dan juga batu-batu karang untuk memambah pemandangan pantai menjadi semakin kompleks namun indah

Pantai Karimun Jawa, Jawa Tengah


Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan kepulauan berjumlah 22 pulau yang terletak di Laut Jawa, mempunyai luas 111.625 Ha. Taman Nasional Karimunjawa ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut melalui SK Menhut No.123/Kpts-II/1986 kemudian pada tahun 1999 melalui Keputusan Menhutbun No.78/Kpts-II/1999 Cagar Alam Karimunjawa dan perairan sekitarnya seluas 111.625 Ha diubah menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Karimunjawa. Tahun 2001 sebagian luas kawasan TN Karimunjawa seluas 110.117,30 Ha ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan dengan Keputusan Menhut No.74/Kpts-II/2001.
Permasalahan yang menonjol dalam mengelola kawasan ini adalah perlindungan ekosistem perairan laut. Hal ini disebabkan karena kawasan Karimunjawa adalah salah satu dari tiga pusat perikanan yang diandalkan di Jawa Tengah, dan fakta bahwa sebagian besar penduduknya yang berjumlah lebih dari 8.800 jiwa adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya perikanan. Oleh karena itu sumber daya perikanan menjadi andalan dalam pengembangan perekonomian di kawasan ini. Permasalahan timbul disebabkan karena dalam memanfaatkan sumber daya perikanan yang cenderung berlebihan (over fishing) terutama pada jenis ikan pelagis kecil, usaha penangkapan ikan yang merusak ekosistem terumbu karang yaitu dengan penggunaan apotas atau sianida maupun jaring yang merusak terumbu karang.
Saat ini Taman Nasional Karimunjawa dikelola oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa dengan tugas utama melaksanakan pengelolaan ekosistem kawasan Taman Nasional Karimunjawa dalam rangka konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam pengelolaan terdapat banyak tantangan untuk memadukan konservasi dan pembangunan ekonomi yang memerlukan dukungan seluruh pihak.

Pantai Ora, Maluku Tengah


Maluku adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian timur. Maluku adalah daerah kepulauan yang terkenal dengan beraneka ragam wisata baharinya. Banyak sekali obyek wisata seperti pantai yang menawarkan keindahan alamnya serta pasir putih yang terhampar luas. Buat anda yang hobbynya traveling dan menikmati keindahan pantai, Tempat wisata yang ada di daerah Maluku ini bisa menjadi salah satu tempat tujuan wisata anda.
Tidak hanya menyejukkan, namun juga dapat memberi ketenangan jiwa bagi anda wisatawan yang mengunjunginya.Sejak zaman penjajahan Belanda, selain terkenal dengan sebabai penghasil rempah-rempah terbesar, Maluku ini terkenal dengan obyek wisatanya yang memiliki daya tarik dengan panorama alamnya.

ORA BEACH atau pantai Ora terletak di Pulau Seram, Maluku Tengah. Inilah surga dunia. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan suasana yang damai dengan pemandangan alam (khususnya pantai) yang sangat indah.

Pantai Ora memang sangat menawarkan keindahan alam yang tiada duanya, satu lagi bukti untuk para wisatawan diluar sana bahwa indonesia mempunyai pantai yang indah.

Ini salah satu bukti bahwa Indonesia sangat kaya dengan keindahan alamnya jika mau dijaga dengan baik. Bagi para wisatawan, di pantai ini telah disediakan resort-resort yang berdiri di atas pantai dengan air yang sangat jernih. Resort-resort disini berbentuk rumah panggung dengan material kayu sehingga menimbulkan suasana nyaman untuk bersantai menghilangkan penat atau beban pikiran. Tempat ini sangat memanjakan pengunjungnya yang ingin mencari ketenangan pikiran.

Selain itu, pemandangan alamnya juga tak kalah jika dibandingkan dengan pantai Lanikai Oahu di Hawaii atau Pulau Maladewa. Setidaknya kita tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri karena ternyata Indonesia pun punya keindahan serupa.

Wisatawan juga bisa trekking melintasi hutan yang masih lestari di balik Negeri Sawai, menuju Pusat Pendidikan dan Rehabilitasi Satwa di Dusun Masihulan, Sawai, tempat melihat penangkaran burung kakaktua seram dan nuri seram. Jangan lupa melihat gua, air terjun, atau menghabiskan malam di pondok, di tengah hutan, yang sengaja dibangun oleh Ali.

Kegiatan-kegiatan ini bisa menyedot wisatawan sampai 500 orang setiap tahun. Mayoritas turis asing dari Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang. Bahkan, tahun ini, sudah 20 grup turis dari sejumlah negara yang pesan temmpat. Setiap grup berjumlah sedikitnya 10 orang

Aktivitas pariwisata di Teluk Sulaeman, persisnya di Saleman dan Sawai ini, sebetulnya sudah dirintis sejak pertengahan 1990. Namun, saat mencapai puncak kejayaan, industri ini meredup, bahkan mati total akibat kerusuhan Maluku pada 1999.

Pantai Raja Ampat, Papua


Wisata Raja Ampat memang boleh dibilang sangatlah unik, karena memiliki nilai sejarah atau legenda tersendiri. Legenda dari Raja Ampat sediri muncul dari masyarakat sekitar dan memiliki beberapa versi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi ( turun - temurun ) mengenai cerita legenda asal - usul nama Raja Ampat sendiri. Adapun salah satu versi cerita legenda dari Raja Ampat yang beredar di kehidupan masyarakat asli sekitar adalah sebagai berikut.
Dijaman dahulu ada sepasang suami istri hidup dengan sederhana di Teluk Kabui Kampung Wawiyai, pasangan suami tersebut mempunyai pekerjaan sebagai perambah hutan, yang kegiatan sehari - harinya pergi untuk mencari bahan makanan. Mereka bahu membahu menyusuri hutan agar cepat mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kemudian dalam perjalanannya mereka sampai di tepi Sungai Waikeo, dan beristirahat melepas lelah. Selama mereka beristirahat mereka melihat lima butir telur yang letaknya tidak jauh dari mereka beristirahat. Setelah itu mereka dekati dan ternyata telur - telur tadi merupakan telur dari Naga. Karena merasah menemukan telur - telur yang aneh, mereka membungkus dalam sebuah noken ( noken = kantong ) dan dibawah pulang ke rumahnya. Setelah sampai rumah telur - telur yang mereka temukan tadi disimpan di dalam kamar.
Waktu mulai berganti dan malampun mulai datang, telur - telur yang tadi mereka simpan didalam kamar mengeluarkan suara bisikan, merekapun penasaran dan mencoba mengintip dari balik pintu kamar. Setelah mereka melihat kejadiannya, betapa kagetnya kedua pasangan suami istri tadi, karena melihat kelima telur yang disimpan menetas dan berwujud empat anak laki - laki dan yang satu perempuan. Kelima anak tadi memakai pakaian halus yang menandakan bahwa mereka adalah keturunan dari seorang Raja.
Hingga saat ini siapa yang memeberi nama kepada anak - anak yang dilahirkan dari telur naga tersebut belum jelas, akan tetapi masyarakat sekitar mengetahui masing - masing anak tadi bernama sebagai berikut :

Nama Raja Legenda Raja Ampat

1. Betani yang kemudian menjadi raja Salawati.
2. Dohar menjadi Raja Lilinta ( Misool ).
3. Mohamad menjadi Raja Waigama ( Batanta ).
4. War Menjadi Raja di Waigeo.
5. Pintolee anak perempuan yang dilahirkan dari telur naga diatas.
Setelah tumbuh dewasa, ke empat anak laki - laki itu menjadi raja dan memerintah dengan bijaksana. Sementara, anak perempuan ( Pintolee ) suatu hari ditemukan sedang hamil dan mengeluarkan dua buah telur. Setelah diketahui oleh kakak - kakak Pintolee, satu telur yang dia lahirkan diletakan dalam kulit kerang, dengan ukuran besar ( Kulit Bia ) dan kemudian dihanyutkan hingga terdampar disebuah pulau yang diberi nama Pulau Numfor. dan yang satunya, tidak menetas dan berubah menjadi batu yang kemudian diberi nama Kapatnai. Batu itu diperlakukan seperti raja oleh penduduk sekitar, dan diberi ruangan tempat untuk bersemanyam serta diletakan pula dua buah batu sebagai pertanda pengawalan terhadap persemayaman tersebut. Sampai saat ini masyarakat sekitar masih menghormati keberadaan persemayaman tersebut dan menjadi objek pemujaan.

Pantai Nihiwatu Beach, Sumba



Pantai Nihiwatu di pulau Sumba NTT


Lokasi pantai Nihiwatu terletak di arah 30 km dari Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pantai Nihiwatu

Pantai Nihiwatu berpasir putih sepanjang 2,5 km ini merupakan satu dari sepuluh pantai yang terbaik di Asia. Banyak peselancar dari mancanegara yang terpesona dengan ombak Pantai Nihiwatu. Mereka menjulukinya dengan God’s Left.

Pantai Tanjung Bira, Sulawesi Selatan


Masuk di kawasan wisata Tanjung Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, kita akan disuguhi pemandangan yang indah. Pantai ini merupakan pesona panorama alam pesisir pantai tropis yang sempurna di ujung selatan sulawesi. Pantai yang membujur dari utara hingga selatan di dibatasi oleh bukit karang kokoh.

Di jalur dua terdapat banyak penjual cederamata yang dibuat dari limbah laut. Di pantainya yang indah terdapat pasir putih halus. Banyak kegiatan yang cukup menarik yang dapat dilakukan salah satunya adalah bersnorkeling. Dengan menyewa spead boat tempat penyewaan yang ada disini. Tempat bersnorkeling ataupun diving terbaik dapat ditemukan di pulau kambing dan pulau liukang dapat yang ditempuh hanya 14 menit saja dari basecamp. Beragam jenis hard coral dan soft coral dapat anda temukan serta beranekaragam biota laut seperti penyu dan warna warni ikan karang. Jika tidak menyenangi snoarkeling, kita bisa bermain pasir atau naik banana boat.

Di sebelah timur dari lokasi wisata ini terdapat hutan yang ditumbuhi berbagai macam jenis pohon. Di ujung Pantai Bira, terdapat tempat yang disebut Panrang Luhu. Penamaan dari bahasa daerah setempat, (konjo,red) yang berarti kuburan orang Luwu. Tempat ini disakralkan untuk dikunjungi orang yang masih berdarah Luwu.

Menemukan lokasi makam ini tidak gampang. Jalanan nampak tidak sering dilalui sehingga tumbuhan liar menjolor kejalan dan dikhawatirkan dapat menggores mobil yang anda tumpangi. 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua kilometer,anda bisa sampai ke pemakaman ini. Dari tempat ini anda bisa melihat jelas Pulau Kambing dan Kabupaten Kepulauan Selayar serta Feri saat melintasi dari Pelabuhan Bira menuju Kabupaten Kepulauan Selayar. Dari atas bukit ini terlihat pantai Bira yang indah.

Pada jaman pemerintahan Datu atau Payung Luwu  legenda ini mengalir tanpa dibatasi oleh kaidah sejarah dan metodologinya yang rumit.

Dalam wilayah kedaulatan Kerajaan Luwu, tersebutlah seorang ratu bernama Sengkawana. Ratu yang cantik dan rupawan ini bernasib malang. Saat ia mengandung suaminya meninggal dunia. Sejak putranya lahir, ia hanya mencurahkan semua kasih sayang kepadanya. Tanpa pertimbangan baik dan buruk, segala keinginan pangeran kecil ini diturutinya.

Kasih sayang berlebihan itu menyebabkan anak semata wayangnya menjadi nakal. Hingga pada suatu puncak kenakalannya, sang ratu amat berang dan tak mampu mengontrol emosi. Diambilnya gayung tempurung lalu dipukulkan pada kepala puteranya. Darah mengalir dari bekas pukulan itu, sang anak kecewa karena tidak menyangka jika ibu yang selalu memanjakannya tega memukulnya sekeras itu. Sambil meraba lukanya, ia melarikan diri ke hutan.

Sang ratu menyesal dengan perbuatannya itu. Sebagai pemimpin kerajaan sebagaimana sediakala, ia  memerintahkan rakyatnya untuk mencari pangeran. Sayangnya, segala upaya yang dilakukan hasilnya nihil. Keberadaan anaknya tidak diketahui siapapun. Maka anak itu dianggap hilang atau kemungkinan besar telah meninggal dunia.

Duka cita melanda anak negeri itu selama beberapa waktu, terutama ibundanya. Namun putaran waktu demi waktu mengikisnya hingga menjadi suatu kenangan buruk belaka. Demikian pula halnya dengan sang ratu, iapun perlahan dapat memulihkan jiwanya, walaupun tak sepenuhnya. Anehnya, baginda ratu yang molek itu tetaplah cantik dan awet muda. Rupanya waktu telah bertekuk lutut atas ketegarannya menghadapi kesusahan hidup yang susul menyusul menerpanya.

Suatu hari, seorang pemuda yang rupawan dan tidak diketahui dari mana asalnya, bahkan namanya pun tidak diketahui, berkunjung ke negeri ini. Melihat Ratu Sangkawana, pemuda ini terpikat begitupula sang ratu. Keduanya akhirnya menikah dan dipersaksikan pada Dewata Seuwwae dengan dihantar do’a dan puja para penduduk negeri.

Tidak lama setelah pernikahannya, saat sang suami muda sedang berleha-leha menghabiskan waktunya bersama sang ratu. Ia tertidur dengan kepala berbantal pangkuan isterinya, kemudian rambutnya dibelai dengan penuh kasih sayang. Namun belum lagi angannya beranjak ke dunia mimpi, tiba-tiba ia terbangun. Setetes air mengalir lembut di keningnya. Kemudian alangkah terkejutnya, ketika mengetahui jika tetesan air yang menimpanya itu adalah air mata isterinya yang jatuh berderai. Isterinya yang cantik itu menangis dengan amat pilunya.

Iapun bertanya, apa yang membuat istrinya itu menagis. Ratu menjelaskan bahwa bekas luka dikepalanya mengingatkannya kepada putranya yang entah kini dimana. Bagai disambar kilatan petir, ingatan lelaki itu kembali seketika itu. Dari suatu bayangan samar yang mendekatinya, hingga menjadi wujud utuh yang jelas perihal sosok wanita yang kini telah dihadapannya.

Gemparlah seantero negeri Luwu perihal pernikahan tabu yang tidak disengaja. kabar itu sampai pula dihadapan Baginda Payung Luwu. Sesuatu yang dikenal dalam adat istiadat Luwu, yakni Ripaggenoi wennang cella’ (dikalungkan padanya benang merah). Maka jelaslah bahwa baginda menjatuhkan hukuman  mati pada kedua ibu dan anak itu. Para panglima bergegas memerintahkan para pasukannya unuk menangkap suami isteri terlarang itu.

Keduanya menyingkir sejauh-jauhnya dari wilayah Tana Luwu. Mereka melakukan pelarian itu dengan menempuh perjalanan jauh nan sulit kearah selatan. Laskar Luwu tidak melepaskan begitu saja. Mereka melacak jejak keduanya, seraya melakukan pengejaran. Sesuai titah Baginda Payungnge yang juga perintah Dewata.

Hingga pada suatu hari, perjalanan menyusuri pinggir laut teluk Bone, keduan buronan itu tiba di suatu daerah perbukitan yang berada dipinggir laut. Pada suatu puncak bukit mereka melayangkan pandangannya jauh kearah selatan melewati garis horizon permukaan laut, mencari keberadaan Pulau Selayar, yang akan menjadi tujuan akhir pelariannya. Maka sejak itulah, kawasan itu dinamai Bonto Tiro. Setelah menemukan arah menuju ke penyeberangan menuju Pulau Selayar, mereka meneruskan perjalanannya kearah selatan, menuju titik akhir perbatasan perairan teluk Bone.

Tempat pertemuan itu terletak pada sebuah tanjung yang dikenal Tanjung Bira. Pada tebing ujung paling timur Bulukumba itulah akhirnya keduanya melepaskan lelah dan penat selama beberapa waktu sembari mencari perahu untuk menyeberang. Namun belum lagi mendapatkan tumpangan perahu ke Selayar, para prajurit Luwu yang diperintahkan menghabisi keduanya berhasil menemukan mereka. Maka dengan perasaan putus asa, ibu dan anak itu menerjunkan diri pada jurang tebing yang terjal. Pusara pertemuan antar tiga perairan yakni Teluk Bone, Laut Flores dan Selat Makassar terkenal ganas itu, menunggu dengan suara gemuruhnya. Para pasukan Luwu mengagap keduanya telah tewas.

Prajurit melakukan perjalanan kembali ke Tana Luwu, dan melaporkan perihal pelaksanaan tugasnya kepada Sang Junjungan. Namun mereka tidak tahu jika sesungguhnya kuasa menyelamatkan keduanya dari kebuasan pusaran yang menelannya.

Sejak selamat dari maut itulah, karakter sang ratu yang malang itu berubah. Ia yang lembut kini menyimpan dendam yang teramat dalam pada segenap orang-orang Luwu, tanpa kecuali. Ia bersama puteranya menetap pada ujung tebing itu. Dengan kesaktiannya, ia dapat mengendalikan cuaca sekitarnya serta merubah susunan gugusan karang pada celah perairan itu. Ia juga bisa mendatangkan pusaran maut setiap saat yang dikehendakinya. Target satu-satunya adalah segenap orang Luwu yang melewati perairan itu. Jazad orang-orang Luwu yang menjadi korbannya terkadang ada yang terdampar pada pantai timur, tidak begitu jauh dari kawasan kekuasan Karaeng Loheta. Maka masyarakat Bira menguburkannya dengan baik di pantai itu juga, hingga dikenal sebagai Panrang Luhu.

Sejak saat itu, celah tanjung itu menjadi kawasan angker. Maka keberadaanya di kawasan itu menjadikannya dikenal oleh orang-orang Bira dengan sebutan Karaeng Loheta, sesuatu yang sesungguhnya berasal dari kata Karaeng Luhuta (Pertuanan Luwu kita).

Makam yang berada di tanjung bira ini, menurut cerita yang dikisahkan, terdapat dua kuburan. Namun menurut informasi dari masyarakat sekitar hanya makam Sangkawana yang ada di tebing ini. Lain pula dengan Andika Mappasomba yang juga budayawan, katanya, ini hanya simbol. Keberadaan jasad dikuburan itu samasekali tidak ada.

Cerita lain yang berkembang di masyarakat, kononnya ini adalah makam Baso Kunjung Barani yang merupakan keturunan raja luwu. Baso Kunjung Barani memiliki adik yang cantik jelita bernama Samindara. Keduanya diasingkan sejak kecil dengan dibekali pengasuh masing-masing. Agar kelak ketika mereka bertemu dapat saling mengenal sepasang guci emas menjadi penanda, si laki-laki mendapatkan penutup gucinya dan si perempuan mendapatkan wadahnya. Dengan maksud kelak Baso Kunjung barani yang mencari adiknya itu.

Baso Kunjung Barani terdampar di Tanjung Bira dan Samindara terdampar di Lembang, Kecamatan Ujung Loe. Saat keduanya bertemu kembali, mereka tidak saling mengenal dan kecantikan Samindara membuat Baso Kunjung Barani jatuh hati. Setelah disampaikan kepada pengasuhnya yang dianggapnya ayah oleh Baso Kunjung Barani, akhirnya dilamarlah samindara. Karena tidak memiliki apa-apa ia hanya membawa tutup guci emas yang menjadi harta satu-satunya sebagai maharnya. Pengasuh Samindara, melihat itu sangat kaget namun ia tidak menceritakannya kepada Baso Kunjung Barani. Tanpa alasan, pinangan Baso Kunjung Barani ditolak.

Tidak menyerah Baso kunjung Barani terus melamar pujaan hatinya itu dan berkali-kali pula ditolak oleh pengasuh Samindara. Akhirnya Baso Kunjung Barani menari pa'dissengeng (Ilmu) yang dapat membuat Samindara jatuh hati.

Sakit hati ditolak, perasaan Baso Kunjung Barani berubah menjadi dendam. Setelah tamat berguru dengan orang pintar ia kembali ke rumah Samindara. Berkat ilmu yang telah dipelajarinya, Samindara jadi tergila-gila kepada Baso Kunjung Barani dan ingin terus berada disisinya. Bahkan saat Baso Kunjung Barani meninggalkannya dengan perahunya, Samindara mengejarnya dan berenang sampai keperahu Baso Kunjung Barani. tanpa belas kasihan, Ia tidak menghiraukannya sampai akhirnya Samindara meninggal. Saat itulah pengasuhnya menceritakan mengapa lamarannya selalu ditolak. Setelah mengetahui hal itu, Baso Kunjung Barani menyesal dan kembali ke Tanjung Bira.

Tempat ini sesungguhnya tempat yang indah sekaligus cukup menyeramkan. Sebuah patahan tebing  yang menyerupai pulau kecil menjadikan perairan itu bagai suatu celah sempit yang amat berbahaya. Dari ketinggian lebih 100 meter, terdengar arus gelombang tak beraturan bagai mengaum tiada henti. Dalam setiap beberapa jam, senantiasa muncul pusaran air besar yang tengahnya menghitam bagai sumur besar, siap menelan apapun yang dapat dijangkaunya.

Hingga tahun 70-an, dari tulisan yang dibuat Oddang, kawasan ini adalah tempat transit para pelaut Bugis dari perairan Teluk Bone yang hendak melintasi perairan itu menuju Selat Makassar di pantai barat. Mereka melabuhkan kapalnya pada lepas pantai berpasir putih itu, kemudian menyerahkan kapalnya pada orang-orang Bira untuk “menyeberangkannya” hingga di Pantai Barat. Adapun halnya Nakhoda Bugis beserta awaknya, “memilih” berjalan kaki sejauh 2 km ke Pantai Barat untuk mendapatkan kembali perahunya menuju perairan Selat Makassar. Demikian pula sebaliknya bagi Perahu Bugis dari arah sebaliknya.